Dan saya dibuat kalang kabut. Soalnya teman saya ini
teriak-teriak hingga terdengar ke tetangga2. Panik jadinya. Soalnya bingung
musti ngapain, dikasi pengarahan, cara ngejan yang baik, atau cara relaksasi,
atau dikasi penyuluhan, ga mungkin. Karena dia juga bidan (bahkan senior).
Jadinya saya malah tinggal-tinggal dia, hehe. mumpung masih pembukaan 8. Jadi saya
ngurus pasien umum-Kb dulu.
Mengerikan sekali melihat orang yang kita kenal sedang
kesakitan didepan mata kita (baca:sekarat) dan kita tidak bisa ngapa-ngapain.
Apalagi saya adalah seseorang dengan empati tinggi. Jadinya berasa sakit juga
Mba A: AAAAAAAAaaaaaa….. sakitnyaaaaa Zaaaaa
Saya: *hening..
Mba A: Ya Alllahhh… Ga sanggup.
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAaa
Saya: *hening..
Mba A: sakitnyaaa Zaaaa… Ga kuat. AAAAAAAAAAAAAAaa
Saya: *garuk-garuk kepala. Noleh ke suaminya. Ternyata kami
sama-sama masang tampang bingung.
Beda sekali kalau dengan pasien:
Pasien: Aaaaaaa… Bu bidaaaaaann… sakit
Saya: sabar ya bu, tarik nafas….. hembuskan…
Pasien: Aaaaaa…
Saya: ibu, jangan teriak ibu. Tapi ngejan seperti
dibatukkan. Ayo bu sedikit lagi.
Pasien: hhhhhhhggggg….*ngejan
Saya: iyaaa, pintar ibu. Sedikit lagi. Simpan tenaganya.
Tuggu sakit, ngejan lagi. *dan seterusnya
Kembali ke cerita awal
Mba A: Ezaaaaa… coba VT lagiiii…
Saya: *VT. Masih pembukaan 8 mba. Portionya masih ada yg
agak tebel.
Mba A: huaaaaaaa…. Sakittttttttttt…. Nda tahan
Saya jadi ingat banyak pasien-pasien bahkan orang-orang yang
bilang, "enaknya bu bidan nanti kalau udah punya anak, Udah pintar ngurus bayi"
Atau, "enaknya mbanya ini. Nanti kalau mau melahirkan udah tau teorinya", dan
berbagai macam pendapat lainnya.
Saya
balas saja pujian itu dengan senyum. Ini masih mending. Ada yang parah, "wah
enak ni bu bidan kalau melahirkan ga sakit" Saya heran+bengong.
Apakah seorang dokter tidak akan sakit? Apakah seorang
psikolog tidak akan punya masalah psikis? Tentu saja tidak. Karna kami manusia.
Seorang bidan pasti akan tetap merasa sakit, bahkan tingkat
stressnya lebih tinggi saat menghadapi persalinan.
Teman saya, saat dia sudah pembukaan lengkap bilang “jangan
di epis!!!” dan kami berhasil ketawa ngakak.
kalau masalah sakit, tidak akan ada bedanya antara bidan
dengan pasien lainnya. Tetap saja sakit itu sakit. Tetapi tentu ada bedanya,
bedanya. Kami tau cara mengejan yang benar, cara bernafas efektif menjelang
kala 2, istirahat diantara kontraksi, dan segala macam. (walaupun katanya kelak kita
bisa lupa teori saat menghadapi persalinan secara real Hehe..) sedangkan pasien harus di
bimbing.
Selesai kala III, mba amel diheacting karena ada rupture spontan. Saya
kebagian jadi asissten alias tukang gunting benang doank. Jadi tangan kiri saya
menggenggam tangan teman saya ini. tangan kanan memegang gunting. menurut saya, sentuhan
itu bisa berarti jutaan kalimat. Sungguh bermakna sekali arti sebuah sentuhan,
dan penyampaiannya akan mengena tepat ke sasaran. Genggaman saya ke mba Amel berarti “sabar ya mba. Yang kuat…” itu lebih ampuh dari kata-kata. Hehehe..
Well, selamat ya mba amel n mas arif, atas kelahiran putrid
pertama… ^o^/
Life is sweet,
xoxo





0 komentar:
Posting Komentar