Aku pernah memiliki sebuah rasa
yang sangat besar.
Kuberikan rasa itu begitu besar hingga tidak ada tempat
untuk yang lainnya.
Hingga saat rasa itu menguap tiba-tiba secara kejam. Tidak ada
rasa yang tersisa.
Aku lupa menyimpannya bahkan untuk diriku sendiri.
“apakah
bisa dengan yang lain?” itu fikirku.
Waktu kulewati seperti tidak ada
ruang untukku lagi.
Bahkan aku lupa bagaimana berdiri tegak.
Hanya bisa
bersandar pada dinding yang terasa dingin dan sunyi. Duka ini sangat
menggangguku.
Butuh mengulang lagi semuanya. Menata
kembali perasaan bertahun-tahun lalu.
Menghimpun kekuatan untuk menghilangkan
sakit itu.
Rusak parah pada sendi dan pikiranku belum sembuh saat aku mulai
berjalan kembali..
Berhari-hari aku berjalan dengan
hati-hati. Menyembunyikan luka berdarah sambil tersenyum.
“semua baik-baik saja”
itu kataku. Berhari-hari sudah aku melewatinya.. dan tidak mengingat lagi
bagaimana hancurnya dulu.
Aku lupa pada yang namanya luka.
Suatu hari.
Saat bersantai
bercengkrama dengan lembutnya angin.
Rasa yang pernah menyakitiku datang kembali
memberikan obat penawarnya.
Seketika aku jatuh lagi. Dan luka itu kembali
menganga.
Bahkan lebih dalam, karena dihadapanku angin berhenti berhembus dan
terdiam.
Ternyata waktu belum
menyembuhkanku. Aku merasa dikhianati oleh diriku sendiri.
Aku tak mungkin berputar jalan ke
belakang, tapi aku pun tak mungkin maju dengan berpejam mata.
Mengapa kau tak pergi saja? atau
aku yang menghilang...



1 komentar:
akhirx tidak ad yg pergi dan tidak ad yg menghilang
Posting Komentar